Cara menyusun PTKP dengan Mudah Untuk Pengawas | Pendidikangratis.idCara menyusun PTKP dengan Mudah Untuk Pengawas

Cara menyusun PTKP dengan Mudah Untuk Pengawas

Salah satu Angka Kredit untuk Pengembangan Profesi pengawas adalah menyusun Penelitian. Dalam dunia kepenagawasn peneltian ini dikenal dengan penelitian Tindakan Kepengawasan atau PTKp. Atau ada juga yang tetap menyebutnya dengan PTS atau PTM untuk pengawas. Sebenarnya melakukan Peneltian tindakan seharusnya terus dilakukan, guna meningkatkan kualitas pengawasan demi mengangkat kualitas pendidikan terus meningkat.

Dalam kesempatan ini, Admin akan memberikan beberapa tips dalam menyusun proposal sekaligus laporan PTKp. Sebelum sampai kepada penyusnan laporan PTKp, ada baiknya kita mengetahui konsep PTKp dari dasarnya.

Karakteristik Penelitian Tindakan

 Problem yang dipecahkan merupakan persoalan praktis yang dihadapi peneliti ‎dalam kehidupan profesi sehari-hari.‎ Peneliti memberikan perlakuan (treatment) yang berupa tindakan terencana ‎untuk memecahkan permasalahan dan sekaligus meningkatkan kualitas yang ‎dapat dirasakan implikasinya oleh subjek yang diteliti.‎

Langkah-langkah penelitian yang direncanakan selalu dalam bentuk siklus ‎tingkatan atau daur yang memungkinkan terjadinya kerja kelompok maupun ‎kerja mandiri secara intensif.‎ Penelitian tindakan bersifat terbuka. Penelitian tindakan merupakan sebuah analisis kritis terhadap tempat-tempat ‎kerja pendidikan.‎ Penelitian tindakan merupakan justifikasi bagi praktik kerja seseorang.‎ Adanya langkah berfikir reflektif (reflective thinking) dari peneliti baik sesudah ‎maupun sebelum tindakan. Reflective thinking ini penting untuk melakukan ‎retrospeksi (kaji ulang) terhadap tindakan yang telah diberikan dan ‎implikasinya yang muncul pada subjek yang diteliti sebagai akibat adanya ‎penelitian tindakan.‎

Tujuan Penelitian Tindakan

1). Salah satu cara strategis guna memperbaiki layanan maupun hasil kerja dalam ‎suatu lembaga.‎ 2). Mengembangkan rencana tindakan guna meningkatkan apa yang telah ‎dilakukan sekarang.‎ 3).Mewujudkan proses penelitian yang mempunyai manfaat ganda, baik bagi ‎peneliti yang dalam hal ini mereka memperoleh informasi yang berkaitan ‎dengan permasalahan, maupun pihak subjek yang diteliti dalam mendapatkan ‎manfaat langsung dari adanya tindakan nyata.‎

 4).Tercapainya konteks pembelajaran dari pihak yang telibat, yaitu peneliti dan ‎para subjek yang diteliti (Mc. Niff, 1992)‎ 5).Timbulnya budaya meneliti yang terkait dengan prinsip sambil bekerja dapat ‎melakukan penelitian di bidang yang ditekuninya.‎ 6).Timbulnya kesadaran pada subjek yang diteliti sebagai akibat adanya tindakan ‎nyata untuk meningkatkan kualitas.‎ 7).  Diperolehnya pengalaman nyata yang berkaitan erat dengan usaha peningkatan ‎kualitas secara profesional maupun akademik.‎

‎‎Model Penelitian Tindakan

1. Model Kemmis. Model ini dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robin Mc Taggart tahun ‎‎1988. Mereka menggunakan empat komponen Penelitian Tindakan ‎‎(perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi) dan suatu sistem spiral yang ‎saling terkait antara langkah satu dengan langkah berikutnya.‎

 2. Model Ebbut. Model ini terdiri dari tiga tingkatan atau daur. Pada tingkat pertama, ide awal ‎dikembangkan menjadi langkah tindakan pertama, kemudian tindakan pertama ‎tersebut dimonitor implementasi pengaruhnya terhadap subjek yang diteliti. ‎Semua akibatnya dicatat secara sisematis termasuk keberhasilan dan kegagalan ‎yang terjadi. Catatan monitoring tersebut digunakan sebagai bahan revisi ‎rencana umum tahap kedua.‎ Pada tingkat kedua ini, rencana umum hasil revisi dibuat langkah ‎tindakannya,dilaksanakan, monitoring efek tindakan yang terjadi pada subjek ‎yang diteliti, dokumentasikan efek tindakan tersebut secara detail dan ‎digunakan sebagai bahan untuk masuk ke tingkat ketiga.‎ Pada tingkatan ini, dilakukan tindakan seperti yang dilakukan pada tingkat ‎sebelumnya; dilakukan, didokumentasi efek tindakan, kemudian kembali ke ‎tujuan umum Penelitian Tindakan untuk mengetahui apakah permasalahan yang ‎telah dirumuskan dapat terpecahkan.‎

3.  Model Elliot. Model ini dikembangkan oleh dua orang sahabat, yaitu Elliot dan Edelman. ‎Mereka mengembangkan dari model Kemmis dibuat dengan lebih rinci pada ‎setiap tingkatannya, agar lebih memudahkan dalam tindakannya. Proses yang ‎telah dilaksanakan dalam semua tingkatan tersebut digunakan untuk menyusun ‎laporan penelitian.‎ Dalam model Elliot ini, setelah ditemukannya ide dan permasalahan yang ‎menyangkut dengan peningkatan praktis, maka dilakukan tahap reconnaisance ‎atau peninjauan ke lapangan. Setelah diperoleh perencanaan yang baik dan ‎sesuai dengan keadaan lapangan, maka tindakan yang terencana dan sistematis ‎dapat diberikan kepada subjek yang diteliti. Pada akhir tindakan, peneliti ‎melakukan tindakan monitoring terhadap efek tindakan yang mungkin berupa ‎keberhasilan dan hambatan, disertai dengan faktor-faktor penyebabnya.‎ Atas dasar hasil monitoring tersebut, peneliti dapat menggunakannya sebagai ‎bahan perbaikan yang dapat diterapkan pada langkah tindakan kedua dan ‎seterusnya sampai diperoleh informasi atau kesimpulan tentang apakah ‎permasalahan yang dirumuskan telah dapat dipecahkan.‎     Model McKernan. Pada model ini ide umum telah dibuat lebih rinci, yaitu dengan ‎diidentifikasinya permasalahan, pembatasan masalah dan tujuan, penilaian ‎kebutuhan subjek, dan dinyatakannya hipotesis atau jawaban sementara ‎terhadap masalah di dalam setiap tingkatan atau daur.‎ Model ini, yang juga perlu diperhartikan adalah bahwa pada setiap daur ‎tindakan yang ada selalu dievaluasi guna melihat hasil tindakan, apakah tujuan ‎dan permasalahan penelitian telah dapat dicapai. Jika ternyata tindakan yang ‎diberikan sudah dapat memecahkan masalah, maka penelitian dapat diakhiri. ‎Apabila hasil penelitian belum dapat memecahkan permasalahannya, maka ‎peneliti dapat masuk pada tingkatan berikutnya.

Berikut admin bagikan kerangka proposal PTKP yang dapat digunakan :

  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • DAFTA GAMBAR
  • DAFTAR TABEL
  • BAB    I. PENDAHULUAN
  • Latar Belakang Masalah
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian
  • BAB   II. KAJIAN PUATAKA
  • Kajian variabel Hasil
  • Kajian Variabel Tindakan
  • Kerangka Berpikir
  • Hipotesis Tindakan
  • BAB  III. METODOLOGI PENELITIAN
  • Setting Penelitian
  • Prosedur Penelitian
  • Metode Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Indikator Keberhasilan
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN
  • Instrumen pengumpul data
  • Biodata peneliti dan kolaborator

Baca juga : Download Laporan Pembinaan Guru dan Kepala Sekolah Sesuai Pedoman Pengawas 2017