Esai Hari Guru NasionalEsai Hari Guru Nasional | Pendidikangratis.id

Esai Hari Guru Nasional

Esai merupakan karangan prosa yang membahas suatu permasalahan secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya. Esai merupakan karangan non-fiksi yang menjadi bahasannya hal-hal tertentu. Seperti isu kesehatan, lingkungan, budaya atau hal lainnya. Pada saat itu, penulis berperan sebagai pengamat suatu fenomena.

Jenis-jenis esai

  1. Esai informal yaitu tulisan yang digunakan tidak terlalu ilmiah. Seperti tulisan opini di media.
  2. Esai formal yaitu tulisan yang menggunakan kalimat yang ilmiah dan serius. seperti tulisan dalam jurnal hasil penelitian.

Ciri-ciri essay

  • Memiliki bentuk yang relatif pendek dan dapat dibaca dalam waktu singkat. Tetapi tetap padat dan jelas dalam membuat suatu fenomena;
  • Berisi pendapat, sudut pandang, argumen, sikap, dan pikiran dari penulis sendiri yang menilai suatu kondisi atau fenomena;
  • Bersifat cenderung subyektif;

Contoh essay dalam memperingati Hari Guru Nasional

KEMAMPUAN BERADAPTASI DAN SEMANGAT  GURU ;  KUNCI MENGAJAR DI TENGAH PANDEMI

Apresiasi Peran Guru Di Tengah Pandemi

Menyambut hari guru nasional tahun 2021 terasa berbeda dengan masa sebelum pandemi. bahkan nyaris tak terdengar gemanya di kalangan guru. Sungguhpun demikian, peran guru sangat nyata di tengah pandemi ini, apalagi di awal pembelajaran tatap muka terbatas sebulan terakhir ini. Dunia pembelajaran di seperti hidup kembali. Peserta didik  dapat merasakan cahaya matahari pagi, dan seragam sekolah terpakai lagi.

Sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 tahun 1994, terdapat dua hal yang menjadi pertimbangan ditetapkannya Hari Guru Nasional yaitu: pertama , guru memilki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Kedua, sebagai apresiasi mewujudkan penghormatan kepada guru.[1] Sehingga ketika peringatan Hari Guru Nasional, hakekatnya peran guru masih sangat diperlukan, keberadaannya sangat strategis dalam menyiapkan generasi bangsa yang berkualitas.

Peran guru yang nyata adalah menyiapkan pembelajaran. Mengantarkan dan memastikan peserta didik mampu menguasi kompetensi yang diperlukan untuk hidup. Keterbatasan ruang dan waktu saat pandemi, menjadi tantangan tersendiri agar peran yang strategis itu tetap terlaksana. Sungguh memerlukan semangat yang tak terbatas sehingga guru dapat memilih strategi dan pendekatan yang sesuai dengan materi pokok atau standar kompetensi yang disampaikan.

Kemampuan Beradaptasi Dan Semangat Guru, Kunci Mengajar Di Tengah Pandemi

Sungguh  pandemi covid-19 ini meluluhlantahkan semua aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Aspek keselamatan dan kesehatan semua yang terlibat dalam pembelajaran terutama guru dan peserta didik menjadi yang prioritas. Maka pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi solusi yang ditawarkan. Panduan pembelajaran dari rumah (BDR) yang dikeluarkan pemerintah yang dapat diakses secara cuma-cuma, kenyataaannya guru kesulitan dalam implementasinya.

Collie dan Martin (2016) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran terdapat tiga aspek yang perlu diketahui guru. Yaitu aspek kebaruan (novelty), perubahan (change) dan ketidakpastian (uncertainty)[2]. Oleh karenanya, guru harus dapat menghadapi kondisi tersebut dengan selalu siap untuk beradaptasi. Beradaptasi dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian di tengah pandemi ini. Selain itu, guru harus mampu menghadapi kebutuhan siswa yang berbeda dan kondisi pembelajaran dengan cara menyesuaikan kecepatan pelajaran (lesson pace); mengadopsi berbagai variasi kegiatan sesuai dengan karakteristik peserta didik; atau dapat juga mencari rujukan yang sesuai sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif.

Lemahnya kemampuan guru dalam mengoperasikan aplikasi teknologi dan informasi menjadikan kendala tersendiri dalam PJJ, selain kendala sarana dan prasaran (device) yang dihadapi guru. Untuk itu, guru yang mampu mengubah strategi pembelajaran akan mampu keluar dari kondisi yang terbatas ini. Hasil penelitian Penulis pada madrasah binaan, menunjukkan bahwa 66 orang guru dari 73 orang yang mengikuti program ‘‘Sapa Guru” menyatakan PJJ banyak kendala atau tidak efektif.[3]

Pedoman pembelajaran saat pandemi menyatakan bahwa tidak semua muatan kurikulum disampaikan, cukup kompetensi dasar (KD) atau indikator yang esensial. Memilih KD atau indikator esensial tersebut didasarkan kepada urgensi, kontinuitas (keberlanjutan) , relevansi dan keterpakaian. Urgensi menunjukkan bahwa indikator tersebut penting dikuasai oleh peserta didik. Kontinuitas adalah keberlanjutan atau menjadi dasar bagi indikator berikutnya. Relevansi  yaitu indikator tersebut terkait dengan mata pelajaran lain, dan keterpakaian merupakan implikasi bahwa indikator tersebut memiliki nilai yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Adaptasi yang dilakukan guru antara lain, perubahan pendekatan,strategi dan metode dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru harus pandai memilih pola dalam PJJ tersebut, apakah dilaksanakan secara online dengan media gratisan atau secara offline, dengan memberikan lembar kerja secara manual. Ataukah dengan kombinasi, selain menggunakan media online juga dengan lembar kerja yang diberikan secara drive thru ( siswa mengambil tugas ke madrasah). Tentunya pilihan tersebut disesuaikan dengan kondisi madrasah dan peserta didik. Kondisi lainnya yang cukup menantang guru adalah kegiatan pembelajaran  tatap muka terbatas (PTMT). PTMT ini cukup singkat waktunya, sekitar dua jam. Dengan cara bagaimana guru menyampaikan materi pelajaran dengan waktu yang sempit tersebut. Kemampuan mengubah metode, memilih materi esensial serta memberikan penugasan untuk pembejaran mandiri menjadi pola adaptasi yang kiranya dapat dicoba.

Hal yang sangat penting lainnya adalah semangat guru. Karena dengan semangat yang menggelora , membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dan yang ragu-ragu menjadi sebuah keyakinan yang pasti. Dengan semangat inilah guru dapat memilih startegi yang dibutuhkan dalam PJJ ataupun PTMT. K.H. Hasan Abdullah Sahal yang merupakan salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menegaskan, “at-thariqah ahammu mina-l-maddah, wa al-mudarris ahammu mina-t-thariqah, wa ruhu-l-mudarris ahammu mina-l-mudarris nafsihi”[4]. Ruhul Mudarris dimaksudkan jiwa, semangat guru, atau karakter guru yang membuatnya dapat mengerakkan dirinya untuk berbuat ikhlas, berinovasi dan senantiasa dapat beradaptasi terhadap tantangan yang dihadapinya ketika bertugas.

Adanya PJJ ataupun PTMT ini seharusnya tidak menjadi kendala, bahkan menjadi pemacu guru untuk lebih kreatif, pantang menyerah dan senatiasa berinovasi dalam menerapkan metode pembelajaran yang susuai dengan KD yang diajarkan. Pandemi covid-19 mengakibatkan keterbatasan pembelajaran, tetapi dengan semnagat guru keterbatasan itu menjadi keleluasan untuk berinovasi dan berkreasi. Tentunya kondisi ini segera berlalu, sehingga pembelajaran normal kembali.

SELAMAT HARI GURU NASIONAL !


[1] news.detik.com›berita›d-5821753›tanggal-25-november-memperingati HGN

[2] Collie, R.J. and Martin, A.J., 2016. Adaptability: An Important Capacity for Effective Teachers. Educational Practice and Theory, 38(1), pp.27-39

[3] Mulyadi, 2021. Best Practice Sapa Guru di masa Pandemi, pembinaan guru secara virtual

[4]  https://www.gontor.ac.id › berita › interpretasi-makna   Interpretasi Makna “At-Thariqah Ahammu Mina-l-Maddah”

UTBK-SBMPTN 2022

admin
3 min read

PENTING! INFORMASI SNMPTN 2022

admin
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *